Pendidikan Kaum Tertinggal Di Sampang

Authors

  • Ardhie Raditya Universitas Negeri Surabaya

DOI:

https://doi.org/10.17977/um021v2i12017p41-49

Keywords:

Pendidikan, Kaum Tertinggal, Sampang, Madura

Abstract

Sebagaimana tercantum dalam Perpres nomor 131/2015, Sampang tergolong salah satu daerah tertinggal di Indonesia. Fenomena ketertinggalan yang sangat mencolok di Sampang adalah aspek pendidikannya. Dengan menggunakan metode fenomenologi, pendidikan kaum tertinggal di desa Blu'uran, lebih spesifiknya di SDN Blu'uran 2, maka fenomena ketertinggalan tersebut tampak dalam beberapa hal. Pertama, para siswa dan orang tuanya tidak memiliki cita-cita dan masa depan ideal. Tujuan mereka bersekolah nyaris tanpa pengharapan. Kedua, kesuksesan pendidikan bukan ditentukan oleh faktor kepintaran (pènter), melainkan keberuntungan (pojur). Ketiga, kondisi sosial geografis dan tekanan keagamaan yang kuat memaksa masyarakat sekitar tidak memiliki kebebasan menentukan masa depan pendidikannya.

References

A.T, Mosher. (1977). Menggerakkan dan Membangun Pertanian, Jakarta: CV Yasaguna

Niehof, Anke. (1958). Women And Fertility in Madura (Indonesia),Leiden: KITLV

Rozaki, Abdur. (2004). Manabur Kharisma, Menuai Kuasa. Yogyakarta: Galang Press

Zamroni, Imam. (2006). Dinamika Kekuasaan Elite Ekonomi Lokal Pasca Soeharto di Pamekasan Madura, Tesis Pascasarjana

Sosiologi UGM: Tidak dipublikasikan

Wiyata, A. Latief. (2002). Carok: Konflik Kekerasan dan Harga Diri Orang Madura, Yogyakarta: LKIS

Kuntowijoyo. (1993). Radikalisasi Petani, Yogyakarta:

Bentang__________, (2002). Madura (1850-1940), Yogyakarta: Mata Bangsa

Lombard, Denys. (2000). Nusa Jawa Silang Budaya, Jakarta: PT. Gramedia

Raditya, Ardhie. (2016). Pendidikan Anti Pendidikan, Surabaya: Unipress

Clark, Moustakas. (1994). Phenomenological Research Methods, California: SAGE

Lexy J. Moleong. (2000). Metode Penelitian Kualitatif, Bandung: Remaja Rosda

Downloads

Published

12/30/2017

Issue

Section

Articles